Jumat, 30 April 2010

Koninginnenedag; Pesta dan Karnaval Jalanan di Belanda

Kamis sore setelah menjadi notulen rapat JKI (Jaringan Kerja Indonesia) Belanda di KITLV, beberapa teman mengajak saya untuk ikut ke Den Haag atau Amsterdam. Menurut mereka malam tanggal 29 April akan sangat panjang di dua kota itu karena besoknya tanggal 30 dirayakan hari kelahiran ratu Belanda. Karena sudah terlalu letih setelah melawati hari Kamis yang padat (sebelum rapat JKI saya harus presentasi proposal thesis di depan dua orang calon pembimbing) maka saya memilih untuk melihat-lihat acara spesial untuk warga belanda itu di Leiden saja.
Jam 23.00 saya dan beberapa orang teman menancap pedal sepeda menuju Leiden town hall dan sekitar 20an menit kemudian kami sampai di Bresstraat. Di jalan menuju town hall di depan kafe Sinai, sebuah panggung dengan live music cadas sudah menyambut kami. saya dan teman-teman hanya nonton ratusan pemuda dan pemudi yang sedang menikmati Heineken sambil berjoged. Tontonan itu semakin menarik untuk saya ketika ada salah seorang pemuda yang sudah teler dan mulai bertingkah (baca;rese). Berguling-gulingan di tengah keramaian, bangun kemudian mendorong siapapun yang menyenggol tubuhnya. Hebatnya, walaupun sama-sama mabuk, tidak sampai terjadi pemukulan, pengeroyokan, atau tawuran antar pengunjung dan geng masing-masing. Mungkin selain sadar hukum, mereka juga sama-sama tidak ingin merusak pesta besar itu.
Dengan susah payah karena harus melewati kerumunan orang mabok, saya dan teman-teman kemudian berpindah tempat untuk melihat dari sisi yang lain panggung itu. Ternyata di dekat town hall, ada panggung yang jauh lebih besar di banding yang pertama. Panggung yang paling besar itu terletak di atas jembatan yang menghubungkan kanal di jalan tempat biasa di gelarnya open markt (pasar kaget setiap Rabu dan Sabtu). Panitia mengubah jembatan menjadi seperti panggung konser dengan sound system besar dan lampu-lampu tembak berwarna warni. Ajaibnya ribuan pengunjungnya ada di bawah kanal. Awalnya saya pikir mereka semua pakai ilmu meringankan tubuh yang biasa dimiliki pendekar-pendekar di dunia persilatan dijaman Bramakumbara, Mantili, dan lasmini karena bisa berjoged, berdansa dan berjalan-jalan di atas air, namun perkiraan saya meleset karena nyatanya panitia menutup permukaan kanal dengan lantai besi sehingga ribuan manusia bisa berdiri diatas kanaal tanpa takut tenggelam.
Panggung lainnya terletak di Anne Caffe di dekat Harlemstraat. Hampir mirip dengan panggung jembatan town hall, kelebihannya pengunjung masih bisa menggunakan sampan untuk jalan-jalan di atas air dengan iringan musik disco. Malam itu bau alkohol menyelimuti harlemstraal dan bresstraat. Satu hal menarik lain dari pesta malam ini adalah tidak ada anak kecil di bawah 17 atau 18 tahun yang ikut acara ini. Jadi tetap kebebasan itu ada batasnya loh walaupun di negara maju sekalipun...he he.
Masalahnya di negeri kita kan terkadang latah. Ingin meniru semirip-miripnya dengan negara maju termasuk dalam gaya hidupnya, sementara identitas bangsa sendiri cendrung dilupakan. Dalam konteks pesta dan life concert music di Serang, Cilegon, Pandeglang dan Lebak misalnya, baik di alun-alun maupun stadion, banyak anak usia SLTP bahkan usia di bawahnya bukan hanya menyaksikan consertnya namun juga malah ikut-ikutan merokok tanpa ada kontrol, sanksi bahkan sekedar teguran dari orang sekelilingnya. ini saya pikir harus menjadi keprihatinan kita bersama.
30 Aprilnya
Setiap tanggal 30 April, Koningennenedag atau queensday (hari ratu) selalu di rayakan di seluruh kota-kota di Belanda. Karena Amsterdam adalah ibukota dan ratu Belanda beristana di sana, konsentrasi festival, life music, karnaval, dan pesta di pusatkan di kota yang indah itu. Menurut informasi dari beberapa teman, Amsterdam pada tanggal itu akan dipenuhi oleh warga belanda termasuk turis yang tidak hanya datang dari negara-negara tetangga Belanda tapi juga dari hampir seluruh daratan Eropa. Menurut sejarah, queensday ini sudah di selenggarakan sejak 50 tahun yang lalu untuk menghormati kelahiran ratu Juliana (saat ini Belanda dipimpin Ratu Betrix).
Saya berencana melihat Queensday ini di The Hague karena Amsterdam menurut sms dari seorang teman sudah sangat crowded bahkan susah jalan. Saya pikir masuk akal karena di Leiden Centraal saja, antriannya sudah sangat parah. Pria wanita yang usianya dibawah 50an (karena saya tidak melihat usia diatas itu) bernyanyi-nyanyi dan berteriak-teriak yang saya tidak paham maksudnya. Keratan Heineken tersalip kanan dan kiri muda dan mudi itu.
Tidak seperti hari biasa, untuk naik ke tangga platform sangat sulit karena saking padatnya. Petugas kemudian membuat sistem buka dan tutup seperti di Puncak Bogor untuk mengatur penumpang yang datang di Leiden dan berangkat ke Amsterdam.
Ketika berjuang menuju platform 9 arah The Hague, ditengah kerumunan massa, petugas di atas tangga memberi sinyal agar calon penumpang di bawah tangga naik keatas menuju platform kereta yang menuju Amsterdam. grubug-grubug-grubug..., terjebak dalam kerumunan massa, saya hampir mati terinjak-injak para "hooligan pria dan wanita" yang berbadan tinggi dan bertampang sangar ketika mereka menyerbu untuk naik ke tangga di platform menuju Amsterdam centraal. saya terseret massa keatas platform Amsterdam padahal tujuan saya adalah ke The Hague yang letak platformnya berbeda. Gila!!! mirip bonek!!! sampai di kereta The Hague ngos-ngosan...cape deh...
Setelah Jumatan di masjid Al HIkmah milik jama'ah Indonesia, saya melanjutkan perjalanan ke Cartesiusstraat dan mengelilingi The Hague selama beberapa jam. Di jalanan, banyak penduduk yang berjualan tidak hanya makanan tapi juga barang-barang bekas rumah tangga seperti kulkas, sofa, sepatu, mainan anak, televisi, tas, dll. harga yang ditawarkanpun sangat jauh dibawah standar. Misalnya harga jam tangan yang paling murah biasanya sekitar 15 euro di sini bisa dapat 2 dan paling mahal 5. Bukan tanpa minat untuk membeli, tapi saya pikir karena saya insyallah masih lama di sini maka keinginan untuk membeli barang-barang itu saya tunda sampai tahun depan.
Jam 00.02 kereta jurusan Amsterdam yang melewati Leiden tertunda beberapa menit karena menurut petugas yang sempat saya obroli, banyaknya penumpang yang mabuk menyebabkan kerusakan beberapa kereta dan terhambatnya laju kereta karena kendaraan dan antrian di pintu-pintu perlintasan kereta api. Dini hari itu Leiden Centraal masih di padati penumpang yang baru datang dari Amsterdam dengan cerita, pengalaman, dan tingkat kemabukan masing-masing.
Smaragdlaan, 1 May 2010 (bertepatan dnegan hari buruh sedunia)
Hidup Buruh!!!

Minggu, 25 April 2010

Khutbah-Khutbah di Belanda (Bag. I)

Mengawali Khutbah ini marilah kita bersama-sama panjatkan rasa syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan kita nikmat sehat, iman dan Islam sehingga kita bisa bermuajahah, bersilaturahim, sekaligus melaksanakan salah satu kewajiban kita yaitu menjalankan ibadah sholat Jum'at di masjid yang mulia ini.
Sholawat beserta salam semoga tercurah kepada junjungan kita nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat ini dari alam kegelapan, kejahiliyahan dan kemaksiatan ke alam pencerahan melalui ajaran tauhid yang beliau sampaikan. Semoga Allah SWT juga memberikan berkah dan nikmatnya kepada para sahabat, keluarga dan pengikutnya yang setia menjalankan seluruh ajarannya hingga akhir jaman.
Pada kesempatan khutbah ini, khatib ingin berpesan dan berwasiat terutama pada diri pribadi dan kepada jama'ah jum'at sekalian agar terus meningkatkan, meninggikan dan mempertajam ketakwaan kita kepada Allah SWT karena hanya dengan modal ketakwaanlah kita bisa menghadap Allah SWT kelak dan insyallah kita semua termasuk dalam golongan orang-orang yang bertaqwa. amin ya robbal'alamin.
Jama'ah sidang Juma'at yang dimuliakan oleh Allah SWT, Dalam salah satu surat Al quran yaitu surat Al Asr, Allah SWT berfirman yang artinya:
1. Demi masa/waktu
2. Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan orang-orang yang menjalankan amal sholeh serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran.
Surat ini termasuk dalam surat Makiyyah yang diturunkan di Mekah.
Menarik untuk kita garis bawahi ikhwan fiddin sekalian bahwa dalam beberapa surat, Allah mengawalinya dengan huruf "wau qosam" yang menurut kaidah bahasa Arab berarti sumpah untuk memastikan, menguatkan atau menekankan. Dalam beberapa surat, Allah SWT selalu menyertakan huruf wau ini termasuk dalam surat Al Asr. Pertanyaannya, kenapa Allah SWT menekankan kepada manusia agar kita mengingat waktu, makhluk yang ia ciptakan? apa urgensinya?
Ikhwan fiddin rohimakumullah, dengan mengingatkan kita semua akan waktu, Allah SWT sebetulnya menunjukkan dan mengingatkan kepada kita semua bahwa hidup kita di dunia ini hanya sementara, sama sekali tidak kekal dan memang tidak ada yang kekal di dunia ini. Semua makhluk dimuka bumi ini hanya "diberi" kesempatan olehNya dengan kesempatan hidup yang tidak lama, sementara, dan temporer. Semua makluk Allah diciptakan dengan permulaan dan sekaligus pasti ada akhirnya. Wajar jika kemudian Allah mengatakan bahwa "sesungguhnya manusia dalam keadaan rugi" bagi orang-orang yang malalaikan waktu.
Jadi konsep Allah tentang kerugian, tidak seperti dalam dunia perdagangan yang mendefinisikan kerugian hanya sebatas berkurangnya modal setelah proses perdagangan berlangsung. Konsep kerugian yang Allah tawarkan adalah kerugian yang tidak hanya berdampak pada kekurangan harta namun juga akan berimplikasi pada masa depan umat manusia yang akan kekal di akhirat kelak.
Sidang Jum'ah yang di muliakan Allah SWT, makhluk Allah yang bernama waktu itu melesat bak anak panah, sangat cepat. Saya sendiri merasakan bahwa sepertinya saya belum lama lulus SMA namun hari ini tenyata usia saya sudah 28 artinya 10 tahun sudah saya lewati tanpa terasa. Kita semua mungkin juga merasakan hal yang sama dengan pengalaman hidup yang beraneka ragam dan seluruhnya sesunguhnya sedang menuju satu point yaitu ajal yang kita tidak pernah tahu kapan akan menjemput. Di awal ayat ini Allah mengajarkan kepada kita semua agar waktu yang menjadi modal hidup kita yang terbesar harus di gunakan dengan sebaik-baiknya dengan menggunakan waktu hidup ini untuk mendekatkan diri kita kepada Allah SWT, dengan menjalankan seluruh perintah Allah dan menjauhi seluruh larangannya karena bukankah Allah SWT berfirman dalam surat Adzariyaat ayat 56 yang artinya:
"Dan tidaklah aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali agar mereka beribadah kepadaKu."
Sehingga sebagai seorang muslim, tidak ada kata lain selain menjadikan seluruh aspek kehidupan kita bernilai ibadah di hadapan Allah SWT.
Dalam konteks kehidupan di negara-negara barat sesungguhnya budaya untuk menghormati waktu sangat terasa. Kita akan merasa sangat malu jika terlambat menepati janji, terlambat masuk kelas, dan lainnya. Ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Belanda, saya sangat kagum dengan orang-orang yang masih harus berjalan cepat ketika melalui eskalator yang sebetulnya sudah berputar cukup cepat. Ini membuktikan bahwa waktu sudah menjadi bagian kehidupan yang sangat penting untuk mereka.
Nah, muslim yang bertempat tinggal dan hidup di negara-negara barat sebetulnya memiliki nilai plus karena budaya ketepatan waktu disandingkan dengan keimanan kepada Allah SWT adalah kombinasi yang sempurna. Dalam kaitan inilah kemudian ayat selanjutnya dalam surat Al Asr berkolerasi. Setelah Allah SWT mengingatkan kita akan kerugian yang diakibatkan oleh lalainya kita akan waktu, Allah kemudian menjelaskan tentang siapa sesungguhnya orang-orang yang tidak merugi.
MenurutNya, orang-orang yang tidak merugi adalah orang-orang yang beriman dan beramal sholeh. Jadi tidak cukup berhenti ketika kita menyatakan beriman dengan bersyahadat saja. Allah jelas-jelas menginginkan agar keimanan itu di ikuti oleh amal sholeh, baik yang bersifat ritual-religius maupun seluruh perbuatan-perbuatan positif yang memiliki implikasi sosial dan komunal di masyarakat.
Dan ternyata, Allah meminta kita tidak hanya cukup dengan beriman dan melakukan amal sholeh, namun juga harus diikuti dengan nasehat-menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati dalam kesabaran. Artinya sebagai sebuah kesatuan "ummatan wahidah", umat yang sudah sama-sama menyatakan keimanan dan sudah beramal sholeh, di minta untuk saling mempererat silaturahim, persaudaraan, dan persatuan dengan jalan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Dengan jalan itulah insyallah kita semua terlepas dari kategori sebagai orang-orang yang merugi di dunia ini.
Smaragdlaan, di sampaikan dalam khutbah di Masjid Al Ikhlas, Amsterdam.
wallahu'alam

Sabtu, 17 April 2010

Keukenhof: Secuil Taman Surga Di Daratan Eropa

Saya sebetulnya mendengar nama Keukenhof baru ketika menginjakkan kaki beberapa hari di Belanda, waktu itu musim dingin masih sangat ektrem dengan salju yang turun hampir setiap hari. Menurut seorang teman kuliah asal Belanda, setelah musim dingin, akan datang musim semi yang indah karena bunga-bunga di taman, jalanan dan di manapun di Belanda akan mekar. Lidia, mahasiswi Belanda itu menambahkan bahwa di musim semi, Belanda akan kebanjiran turis-turis manca negara yang ingin menyaksikan secara langsung keindahan bunga-bunga di Keukenhof yang letaknya hanya 30 menit dengan menggunakan bus dari Leiden Centraal.
Pembicaraan masalah Keukenhof berlanjut tidak hanya melalui Lidia namun beberapa dosen juga selalu memotivasi kami dengan mengatakan bahwa "the weather will be better soon and you have to visit Keukenhof at the end of April". Mungkin mereka melihat begitu tersiksanya kami, mahasiswa Indonesia dengan udara dingin yang belum pernah kami rasakan selama di Indonesia. Padahal, orang-orang sinipun ternyata merasakan hal yang sama. Mereka tidak suka dengan udara dingin. Makanya untuk sebagianbesar penduduk Belanda, musim dingin kebanyakan mereka habiskan di dalam rumah dari pada keluyuran.
Kegiatan hari ini untuk berkunjung ke Keukenhof, sebetulnya tidak ada dalam jadwal kegiatan saya. Teman-teman mengajak saya untuk berangkat ke Keukenhof karena menurut mereka Keukenhof sudah di buka tanpa harus menunggu akhir April seprti saran Nico, dosen saya. Menurut perkiraan cuaca, hari sabtu ini cuaca akan cerah dan artinya liburan ini akan sangat bermakna jika kita habiskan di luar kamar. Oh iya, taman bunga Keukenhof hanya di buka pada musim semi, karena di musim yang lain bunga-bunga tidak mekar.
Prosedur ke Keukenhof
Menurut sejarah, taman bunga Tulip Keukonhof dahulu adalah taman berburu pada abad ke 15 yang luasnya mencapai 32 hektar. Terletak tidak jauh dari bandara Schipol Amsterdam, memudahkan turis dari seluruh dunia untuk mampir menikmati ribuan jenis bunga beraneka warna dari jenis tulips, daffodils, hyacinths, narcissi, dan gladioli. Tentu saja kebanyakan adalah jenis Tulip yang menyebabkan terkenalnya Belanda oleh bunga itu. Adalah J.D. dan L.P. Zother, arsitek landscape Amsterdam yang telah menyulap halaman kastel Jacoba van Beieren ini menjadi taman bunga yang eksotik.
Prosedur ke Keukenhof tidaklah rumit karena di setiap stasiun dan terminal bis, pemerintah Belanda menyediakan beberapa loket yang khusus diperuntukkan bagi pengunjung yang ingin berwisata ke taman bunga Keukenhof. Tiketnya dapat di beli dengan harga 21 euro sudah termasuk ongkos pulang-pergi dengan bis connexxtion yang sudah disediakan khusus bagi pengunjung di terminal-terminal bus dekat stasiun. Harga tiket ini flat, artinya sama saja antara kita beli di Leiden Central dengan di Amsterdam Centraal harganya tetap sama.
Makanya buat yang ga mau rugi mending pergi dulu ke Amsterdam biar puas (he he he). Yang harus diingat, tiket jangan sampai hilang karena ketika akan masuk ke sana, petugas di pintu masuk akan memeriksa kembali tiket kita. Termasuk ketika akan pulang, sopir bis meminta kita untuk menunjukan tiket itu.
Seperti yang sudah saya duga sebelumnya, antrian loket untuk mendapatkan tiket telah dipenuhi oleh turis mancanegara. Dalam antrian saya, warga negara Srilanka, Perancis, Syiria, India, Cina, Jepang, dan Indonesia berbaris menunggu giliran untuk mendapatkan karcis masuk ke Keukenhof. Setelah antri mendapatkan tiket, kita juga harus antri untuk masuk kedalam bus. Kebetulan, saya dan teman-teman harus berdiri didalam bus karena ingin segera sampai disana.
Ketika bus melewati kota Lisse, hamparan bunga warna warni di taman yang luas sudah menggoda mata ini untuk tidak mungkin tidak menatapnya. Bunga berwarna ungu, hijau, kuning, merah, pink, krem, dan warna-warna lain yang belum pernah saya lihat sebelumnya membentuk gugusan panjang nan indah seperti hamparan permadani raksasa. Kurang lebih 20 menit kemudian, bus yang mengantar kami sampai di pintu parkir taman. Di sana, ratusan mobil bus dengan karoseri yang beraneka bentuk, ukuran, bendera dan corak berjejer menandakan Keukonhof ini dapat ditempuh lewat jalur darat oleh negara-negara uni eropa lain seperti Jerman, Swiss, italia, Perancis, Belgia, dan Luxemburg. Jarak dari pemberhentian bus ke pintu masuk Keukenhof tidak jauh kurang dari 100 meter dan disini antriannya lebih panjang dari pada ketika mengantri tiket di stasiun.
Ketika memasuki Keukenhof, saya merasakan kemiripan dengan ketika masuk Dufan karena pengunjung langsung disambut lagu-lagu yang diputar berulang-ulang. Disebelah kanan dan kiri setelah beberapa meter dari pintu masuk, terdapat kafe-kafe yang dipenuhi pengunjung, sangat crowded. Bahkan beberapa pengunjung terpaksa memilih duduk di pinggir kolam. Belok ke sebelah kanan, saya sudah mulai melihat bunga-bunga warna warni namun jumlahnya masih sedikit. Nah, beberapa ratus meter setelah belok kanan, terdapat petunjuk arah apakah pengunjung ingin ke area Betrix, Willem Alexander, atau Juliana (nama-nama ratu dan keluarga kerajaan Belanda) tempat beberapa areal taman. Permadani raksasa yang saya temui di Lisse, tedapat di belakang kincir angin. wah subhanallah indah banget deh. Suatu saat saya harus bawa keluarga ke sini untuk bersama menikmati Tulip dan teman-temannya...
Jika melihat pohon-pohon besar yang sudah berlumut situasinya mirip dengan Kebun Raya Bogor. Bedanya di sini terdapat kanal yang mengelilingi taman dan sampan yang bisa disewa pengunjung untuk berkeliling menikmati Keukenhof lewat aliran air. Harga tiket untuk menaiki sampan besar itu seharga 7.5 euro.
Setelah 3 jam lebih mengelilingi taman, saya dan teman-teman memutuskan untuk pulang karena perut sudah keroncongan dan disini tidak ada makanan berat. Di sini, pedagang kaki lima hanya menjajakan waffel, ice cream, dan bibit-bibit bunga jadi tidak bisa kenyang. Tepat jam 4 siang, di tengah matahari yang bersinar sangat terik, kami meninggalkan Keukenhof kembali menuju Leiden dengan memori yang tidak mungkin terlupakan: mengunjungi secuil taman surga di daratan Eropa.
Rohman Al Bantani, Smaragdlaan 17 April 2010, 22.40 WB (Waktu Belanda).


Jumat, 16 April 2010

Oleh-oleh dari Vrije University Amsterdam

Kemarin sore kira-kira jam 16.30 sewaktu saya di kantin Lipsius, saya menerima email dari Marise van Amersfoort, koordinator Indonesian Young Leaders, bahwa hari Jum'at (hari ini) jam 13.15 akan diadakan Opening Conference of the Interuniversity Research School for Islam Studies (ISIS) ‘Studying Islam: Text and Context’, sebuah lembaga kajian Islam baru yang berisi 8 universitas papan atas di Belanda diantaranya:Vrije University Amsterdam, Amsterdam University, Groningen, Ultrecth, Leiden, Nijmegen, Tilburg, dan Twente.
Untuk hadir di acara ini, saya harus membatalkan dua janji yang sebelumnya sudah saya arrange lebih dahulu karena saya sadar bahwa sebagai calon akademisi, forum-forum ilmiah seperti ini merupakan kesempatan emas yang harus saya maksimalkan selama saya berkesempatan studi di Eropa. Selain untuk meningkatkan ilmu pengetahuan, forum ini juga memberi saya kesempatan untuk memperbanyak kolega dari berbagai macam bidang dan disiplin ilmu.
Kebetulan cuaca hari Jumat ini menurut saya cukup bersahabat, matahari tidak terlalu menyorot seperti kemarin dan angin juga tidak begitu kuat berhembus sehingga atmosfernya sangat ideal untuk keluar kamar dan jalan-jalan. saya sebetulnya janjian ketemu teman-teman yang lain di depan Leiden Centraal pukul 11.30 namun karena saya ada janji dengan mas najib untuk meminjamkan buku untuknya di KITLV pukul 09.45 maka saya terpaksa tidak bisa datang tepat waktu di tambah Kang Hilman yang akan berangkat ke sana juga masih bersama saya di perpus itu.
Jam 12 kurang 5 saya memarkir sepeda di tempat parkir sepeda depan stasiun (di dekat stasiun Leiden tidak ada parkiran mobil lo) dan rupanya kereta menuju Amsterdam Zuid akan berangkat tepat pada pukul 12.00. sehingga, setelah tiket selesai di urus, saya dan teman-teman langsung cabut menuju ke spur intercity menuju Amsterdam. Kami turun di stasiun Schipol lalu melanjutkan perjalanan menuju stasiun Amsterdam Zuid di platform No.3. Letak Vrije University Amsterdam tidak terlalu jauh dari stasiun hanya beberapa ratus meter dari pintu keluar stasiun.
Jika bangunan Universitas ini di bandingkan dengan Leiden dari sisi modernitas interior, maka saya pikir Leiden masih tertinggal karena universitas ini sudah seperti hotel berbintang. Auditorium, kantin, toilet, ruang resepsi dan ruang kelas didesain sedemikian rupa dengan konstruk interior modern yang indah. Di dalam gedung juga terdapat taman yang walaupun tidak besar namun beberapa pohon sakura yang sudah mulai berbunga di tengah gedung itu menambah kesan asri dan nyaman. Toiletnya menggunakan sensor sama seperti di toilet Leiden Central dan stasiun lain untuk mengeluarkan air.
Kantinnya mungkin 10 kali lebih luas dari kantin Leiden belum lagi makanan yang tersedia disini lebih variatif. Mulai dari nasi kuning, (tapi bukan made in indonesia lo), soup yang bermacam-macam pilihannya, sayuran, minuman, roti, kentang goreng (patat), buah-buahan, dan minumannya sangat komplit. Sampai-sampai saya jadi bingung untuk memilih makanan. Nilai plusnya adalah untuk makanan seperti soup, patat, nasi, dan sayuran dibuat systim prasmanan sehingga untuk yang makannya agak banyak bisa sedikit menguntungkan.
Saat mengantri di kasir untuk membayar makanan untuk makan siang, saya sempat berbincang dengan seorang mahasiswi Indonesia di universitas itu. pada kesempatan itu, dia hanya memastikan dengan bertanya "mas dari Indonesia ya?" saya jawab : Iya mba...saya dari Leiden...oke bye. saya lalu langsung menuju meja dimana kang Hilman, kang Yasrul dan mba Dini sudah menunggu.
Perbincangan singkat itu intinya menegaskan bahwa dihampir universitas di Belanda, terdapat mahasiswa Indonesia walaupun dengan jumlah yang bervariasi.
Tidak seperti acara-acara seminar, diskusi, dan acara resmi lain di negara kita, opening conference di sini tidak memerlukan MC. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 13.50, Prof. Busken sebagai Direktur ISIS langsung meminta perhatian audience kemudian memberikan selintas latar belakang program yang di danai oleh menteri pendidikan Belanda ini yang menurut beliau sejumlah 6 juta Euro selama 6 tahun. Jika tidak ada halangan, program ini akan membuka kesempatan untuk program PhD.
Menariknya, di acara-acara formal-ilmiah seperti ini tidak menyediakan transport atau sertifikat seperti di Indonesia karena mungkin systim penggajian dan kenaikan pangkat mereka berbeda dengan kita yang mensyaratkan banyaknya sertifikat untuk meningkatkan gaji dan poin kepangkatan.
Jadi saya berkeyakinan bahwa kedatangan audiens yang sebagian besar dosen-dosen dan mahasiswa S2 dan S3 dari kedelapan universitas itu adalah murni untuk menambah ilmu dan berdiskusi dengan pakar-pakar yang sudah lebih dahulu malang melintang di tengah belantara akademis.
Jalannya conference
Setelah mengungkapkan latar belakang program, Prof. Leon langsung mempersilahkan pembicara pertama, Prof. Brinkley Messick dari Columbia University, USA, untuk memaparkan hasil studynya selama beberapa tahun di Yaman. kuliahnya berjudul: "Islamic Texts: the Antrophology as a reader". Menurutnya, menjadi seorang antropolog mengharuskannya untuk tidak hanya mendalami sikap, prilaku, tradisi, budaya dan adat masyarakat namun juga di haruskan untuk dapat membaca teks-teks yang menjadi rujukan masyarakat dalam menjalankan aktivitas sosialnya.
selama melakukan field work di Yaman, dia banyak sekali bercengkrama dengan sumber-sumber tulisan tentang masyarakat yaman, quran, hadist, dan hukum-hukum yang di buat oleh mufti dan ulama setempat untuk lebih mendalami kehidupan masyarakat. Beliau juga menjelaskan latarbelakang kenapa Yaman yang dipilih untuk menjalankan field work karena menuerutnya Yaman adalah satu negara dengan tradisi Islam yang kuat namun pengaruh barat, hukum dan budayanya, tidak dapat menjangkaunya. Sehingga Yaman dianggap negara paling "perawan" dari kolonialisasi barat.
Setelah Prof. Messick, pembicara selanjutnya adalah seorang ahli hukum Islam asal universitas Amsterdam, Prof. Ruud Peters. Peters menyajikan judul kuliah yang sangat provokative: Sharia Criminal Law and Human Rights: Are They Compatible?. Peters memulai slidenya dengan mendeskripsikan pemahaman tentang Sharia baik menurut kacamata westerners maupun dalam kacamata muslim seperti pendapat Tarik Ramadhan tentang sharia.
Selanjutnya, Peters yang ahli hukum Islam menjelaskan tentang had (hudud) sebagai Sharia Criminal Law (SCL) dalam islam seperti dalam kasus pencurian, perampokan, perzinahan, minum alkohol, dan kemunafikan sebagai pelanggaran yang dapat berakibat di jatuhinya had. Yang menarik adalah ketika Peters cendrung memberi gambaran hukum Islam hanya dengan yang berhubungan dengan had. Terlebih beberapa slide bergambar yang di tampilkan lebih bayak merepresentasikan "kekejaman" hukum Islam dengan menyajikan gambar-gambar poster penerapan Sharia di negara-negara Afrika seperti Sudan dan Nigeria yang memang menyeramkan dan bagi manusia normal pamplet dan poster itu pasti membuat bulu kuduk berdiri.
Di pamplet tentang penerapan sharia di Sudan misalnya, gambar yang ditampilkan adalah gambar yang ketika mencuri maka sebelah kanannya ada gambar di potong tangan, ketika berzina disebelah kanannya akan di lempari batu sampai mati dan untuk ghoiru muhkson akan di cambuk. Di slide yang lain terdapat gambar larangan seorang perempuan menaiki ojek atau motor bukan dengan mukhrimnya dan di gambarkan bahwa si perempuan akan dihukum rajam (stoning). Nah gambar-gambar ini yang menurut saya berat sebelah dan mengakibatkan generalisasi terhadap Islam dimata barat sehingga berdampak pada asosiasi kekerasan dan anti HAM terhadap Islam semakin kental. Padahal gambar-gambar penyiksaan orang-orang muslim di Guantanamo, korban perang di Irak dan Afganistan misalnya yang dilakukan oleh barat dan sekutunya tidak ditampakkan padahal dampaknya sama atau bahkan lebih tidak berprikemanusiaan. Diskusi ini saya kira sudan sering diperdebatkan dalam dua dasawarsa terakhir dan masih belum menemui titik temu.
Dalam beberapa hal, Peters berhasil menjelaskan beberapa aspek hukum Islam misalnya permasalahan masih tersedianya ruang bagi kaum muslimin dalam wilayah fiqh untuk berijtihad. kemudian beliau juga menggarisbawahi motive-motive di balik implementasi sharia yang lebih cendrung di gunakan untuk tujuan-tujuan politik dari pada keagamaan. Dan yang paling penting, diakhir presentasi, Peters mengajukan beberapa hal tentang hubungan simbiotik antara Islam dan HAM (Human Rights), pertama dengan mengintegrasikan nilai-nilai sharia kedalam convensi Human Rights, kemudian nilai-nilai Human Rights harus di kampanyekan oleh orang-orang Muslim sendiri untuk menghindari sterotipe negative terhadap barat. Kemudian, ilmuwan ini juga menganjurkan agar ruang ijtihad di buka lebar dengan menggunakan metode takhayyur (by selecting existing opinions of classical scholars).
Setelah kedua penyaji memaparkan materinya, Prof. Leon kemudian mempersilahkan dua orang profesor pembanding dari Universitas Amsterdam dan Groningen dan tentu saja membuat semakin seru dan menarik dengan dibumbui respon dari audiens. Sayangnya, waktu yang terbatas membuat diskusinya tidak terlalu tajam, (aktual dan terpercaya he he) karena jawaban-jawaban dari penyaji sangat nominal dan normative.
Rohman Al Bantani


Kamis, 08 April 2010

Antara Beasiswa Luar negeri dan Independensi Bangsa

Tadi sore jam 18.00, menurut informasi yang kami terima di miling list "Leideners" beberapa hari yang lalu, pa Andi Mallarangeng, menteri Pemuda dan Olahraga, akan mengunjungi Leiden dan sekaligus berdiskusi dengan teman-teman mahasiswa Indonesia yang ada di Leiden tentang tema-tema kepemudaan dan kebangsaan. Namun, beberapa menit sebelum acara di mulai, seorang teman berbisik bahwa pa Andi tidak jadi datang karena masih sibuk berkampanye dan berkonsentrasi untuk kemenangannya pada pemilihan ketua umum Demokrat yang akan dilaksanakan tahun ini.
Ya sebenarnya buat saya tidak ada masalah siapapun yang datang karena yang terpenting itu adalah silaturahmi antara teman-teman dengan Bapak-bapak Kedutaan Belanda pasti akan semakin dekat dan akrab dan tentu saja efek lainnya adalah bisa makan malam gratis di restoran Budha bermenu Asia yang segar dan maknyos...he he
Setelah beberapa menit menunggu, datanglah rombongan kementrian Pemuda dan Olahraga yang di komandoi oleh pa Zulkifli, salah seorang deputi di kementrian Pemuda dan olahraga. Pa Zul, menyampaikan permintaan maaf karena pa Andi tidak bisa hadir dalam pertemuan ini dan mendelegasikan beliau untuk "menyapa" teman-teman di Leiden.
Mengawali diskusi, pa Zul membukanya dengan latar belakang mengapa inisiasi dialog pemuda ini muncul. Menurut beliau, ketika pa SBY berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswa Indonesia yanga ada di Australia, pa SBY kaget ketika mendengar pendapat mahasiswa Indonesia yang berpendapat bahwa Republik Indonesia lebih baik dirubah kedalam bentuk federal sehingga jalannya pemerintahan akan lebih efektif. Nah, pendapat inilah yang menurut pa Zul kemudian mendasari apa yang saya sebut dengan "politik sapa menyapa".
Pa Zul kemudian menambahkan, jika saja Australia yang jaraknya tidak begitu jauh dari RI bisa berpendapat demikian, apalagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ada di Eropa, Amerika atau tempat lain yang lebih jauh? Itulah asumsi pa SBY yang kemudian memerintahkan kementrian pemuda dan olah raga untuk "menyapa" pemuda-pemuda/mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri dengan tujuan agar jangan sampai nasionalisme Indonesia luntur hanya karena jarak yang jauh dari tanah air.
Mahasiswa dan Beasiswa ke luar negeri
Beberapa bulan sebelum saya berangkat ke Leiden, saya sempat berdiskusi dengan teman sekaligus pembimbing saya di Serang yang inti dari diskusi itu adalah sebuah pertanyaan yang cukup mendasar. Sanggupkah pemerintah kita, pusat atau daerah, membiayai anak-anak bangsa yang memiliki kemampuan akademik untuk bersekolah di pusat-pusat ilmu pengetahuan dunia seperti Harvard, Oxford, Leiden, Kyoto, Amsterdam, Sorbonne, Mc Gill, Sydney, dan universitas-universitas berqualitas di dunia lain untuk level S2 dan S3 setiap tahun? menurut saya pertanyaan ini penting terutama ketika menyaksikan fenomena semakin banyaknya pemuda Indonesia yang sekolah di luar negeri dengan mendapatkan beasiswa.
Secara umum, saya membagi mahasiswa Indonesia yang sekolah di luar negeri menjadi 3 kelompok besar. Kelompok pertama yang paling besar (saya prediksi sekitar 90%) adalah "kelompok mahasiswa penerima beasiswa funding" baik funding negara asing langsung (USAID, AUSAID, NESO) maupun lembaga-lembaga donor seperti Ford, Toyota, dll. Kelompok mahasiswa S2 dan S3 ini lolos dan mendapatkan beasiswa penuh termasuk biaya hidup selama masa studi tanpa khawatir adanya pemotongan-pemotongan. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang telah melalui serangkaian tes ketat yang sudah terstandarisasi dan tentu jauh dari anasir-anasir konspirasi, nepotisme, dan lainnya.
Kelompok kedua adalah mereka yang belajar di luar negeri dengan ongkos sendiri. Artinya, seluruh biaya baik biaya kuliah, kursus, dan biaya hidup mereka bayar dengan biaya mandiri baik dari orang tua maupun dengan harus bekerja part time. Saya prediksi jumlah ini sekitar 5% dan kelomopok ke tiga adalah kelompok penerima beasiswa PNS yang di biayai oleh APBN atau APBD karena programnya dirancang khusus untuk PNS dengan skema biaya dari anggaran negara. Jumlahnya saya taksir sekitar 5 %.
Dari prediksi ini (mudah-mudahan salah) terlihat bahwa jumlah dana APBN ataupun APBD yang dikeluarkan untuk "memproduksi" manusia Indonesia yang berkualitas sangat timpang sekali (1:20). Dari asumsi ini, saya berpendapat bahwa perhatian pemerintah kita "kalah" jauh dengan funding-funding asing yang tiap tahun mengirimkan anak-anak bangsa ke hampir seluruh fakultas-fakultas dan universitas-universitas terbaik di dunia. Inilah yang kemudian menurut saya sebuah ironi ketika misalnya pemerintah menginginkan manusia-manusia terbaik bangsa ini untuk mempertebal nasionalisme sementara beasiswa yang didapat untuk mereka dan bahkan keluarga mereka di tanah air berasal dari funding-funding asing.
Lebih jauh, yang saya khawatirkan adalah bahwa suatu saat nanti, 20-30 tahun mendatang, ketika teman-teman yang pernah di biayai oleh funding-funding itu sudah menempati posisi-posisi kunci negara, funding-funding tersebut bisa saja menagih dan bahkan mengintervensi kebijakan. dalam diskusi malam tadi saya contohkan misalnya kang Hilman jadi presiden RI ke -20, karena funding itu pernah punya jasa kepada kang Hilman bukan tidak mungkin funding tersebut akan mengintervensi kebijakan. Apalagi jika mengingat kultur bangsa ini yang terkenal dengan budaya "ewuh pakewuh (ga enakan)". Disinilah letak kegelisahan itu ketika membayangkan akan dibanjirinya negeri ini oleh kepentingan-kepentingan funding.
Saya jadi teringat diskusi-diskusi dengan Prof. Bambang di rumah Pa Min. Beliau mengatakan bahwa bangsa ini selalu memainkan politik "tangan di bawah dari pada tangan di atas" terutama terhadap negara-negara yang pernah memiliki hubungan kolonialisme seperti Belanda dan Jepang. Kita selalu meminta "jatah" karena beranggapan bahwa Sumber daya alam negara kita sudah dieksploitasi dalam jangka waktu yang sangat lama sehingga kita merasa berhak untuk mendapatkan kembali hak kita.
Pemikiran inilah yang harus di dekonstruksi. Negara yang besar adalah negara yang mandiri, independent, yang sebetulnya terminologi ini selalu di gembar-gemborkan politisi kita namun pada prakteknya sebetulnya kita tidak pernah benar-benar mandiri. Bahkan saya berani merefleksikan kengerian saya akan masa depan bangsa ini dalam kasus beasiswa mahasiswa S2 maupun S3 yang saya sebutkan perbandingannya diatas.
Karena saya sudah berada di sini (Laiden), maka saya kemudian berani untuk menghitung-hitung rupiah yang harus di keluarkan pemerintah. Secara kasar, katakan misalnya untuk satu orang mahasiswa S2 program IYL biaya yang harus di keluarkan untuk tahap I, masa karantina bahasa inggris adalah 11 juta yang terdiri dari 2 bulan kursus intensive TOEFL sebesar 8 juta dan allowance untuk calon mahasiswa untuk dua bulan sekitar 3 juta. Sedangkan untuk biaya asuransi dan pengurusan visa saya tidak tahu pasti jumlahnya (jika ada yang tahu silahkan tambahkan sendiri).
Nah, ketika pertama kali datang setiap mahasiswa yang mendapat beasiswa akan mendapatkan uang pertama yang jumlahnya sangat variatif tergantung dari budget funding. untuk program IYL dana awal yang di terima untuk pembelian alat tulis dsb itu sejumlah 580 euro (jika kurs euro 12500 maka jika dirupiahkan akan mendapat 7,25 juta). untuk bulanannya setiap mahasiswa mendapat 870 euro (10,9 jt) selama 18 bulan. Berarti jika di jumlah kan kurang lebih sekitar 220 juta per mahasiswa. jika di tambah dengan program "pemantapan" bahasa (bahasa Inggris untuk program IYL dan bahasa Belanda untuk program Encompass) maka setiap mahasiswa S2 bisa menghabiskan lebih dari 230-250 juta.
Jika jumlah ini dikalikan dengan jumlah penerima beasiswa S2 asal Indonesia yang saat ini tersebar di seluruh dunia maka dana yang dikeluarkan funding untuk "menyekolahkan" putra putri terbaik bangsa ini dari tahun ke tahun cukup besar belum lagi untuk program S3 yang angka allowancenya jauh lebih besar.
Jadi kesimpulannya adalah pemerintah kita harus berani untuk mengeluarkan dana sendiri untuk menyekolahkan anak-anak bangsa ke luar negeri untuk menjaga kehormatan sekaligus independensi bangsa terhadap bangsa-bangsa lain karena bukankah hanya dengan mengeluarkan biaya sendiri pemerintah dan penerima beasiswa akan saling memiliki sense of belonging terhadap tanah air? Wallahua'alam.
Smaragdlaan, 00.35 9 April 2010.

Senin, 05 April 2010

Pasar Malam Indonesia: stan Banten di mana ya?

Beberapa minggu yang lalu, Oksal, mantan ketua PPI ( Persatuan Pelajar Indonesia) Leiden, mengabarkan lewat mailing list 10 nama mahasiswa Leiden asal Indonesia yang berhak untuk mendapatkan tiket masuk ke Pasar Malam Indonesia gratis yang jika tidak masuk list maka harus beli tiket seharga 5 euro. Sayangnya nama saya tidak ada dalam list dan berarti jika saya ingin ke sana maka saya harus bayar tiket seharga itu. Hari sabtu siang itu, lewat facebook, saya janjian dengan teman-teman PPI Leiden yang lain untuk bertemu di depan Leiden Centraal pukul 15.00. Rencanannya, kami akan malam mingguan bersama ke Pasar Malam Indonesia di Den Haag.
Cuaca awalnya memang agak mendung dan bahkan jam satu siang hujan sempat mengguyur kota Leiden namun satu jam kemudian hujan berhenti dan hanya menyisakan sisa guyuran hujan di jalanan yang basah dan burung-burung hitam dan bebek kepala hijau yang tampak kedinginan di pinggiran kanal dekat Smaragdlaan. Jam 15 kurang seperempat, saya sudah di Leiden Centraal karena khawatir ketinggalan rombongan. Teman-teman yang ada di sini tampaknya sudah sangat menyesuaikan diri dengan budaya tepat waktu ala barat yang benar-benar ketat. Sehingga akan sangat malu jika sampai terlambat datang. Pernah di minggu-minggu awal kuliah saya sebetulnya datang tepat waktu bahkan 5 menit sebelum dosen datang, saya sudah di dalam kelas. Satu jam pertama saya lewati dengan baik karena saya ikut aktif berdiskusi.
Dosen itu kemudian menawarkan untuk break 10 menit. Nah, waktu itu saya gunakan untuk mengkopi beberapa lembar buku di sebelah kelas dan sayangnya saya telat selama 2 menit tapi akibatnya saya langsung di tegur oleh dosen itu. Wah, malu campur bersalah deh. Makanya belajar dari pengalaman itu, jangan sampai telat jika janjian sama orang luar kecuali kita mau di permalukan luar dalam. he he...
Tapi berbicara masalah telat-menelati sebetulnya ada yang jauh lebih parah dari pengalaman saya. Waktu di tanah air saya pernah baca koran yang isinya berita tentang telatnya salah satu mentri kabinet SBY yang punya janji dengan mentri perindustrian Jepang dalam beberapa jam ( lebih parah kan?) yang akibatnya mentri Jepang itu memutuskan untuk pergi ke departemen yang lain. Menurut saya ini kesalahan fatal yang dampaknya bukan hanya kepada mentri dan departemen itu tapi juga kepada rakyat Indonesia secara keseluruhan. Bayangkan misalnya mentri Jepang itu membawa kontrak kerjasama investasi di Indonesia untuk membuat pabrik kimia atau industri manufaktur padat karya, maka jika sampai gagal MoUnya maka berapa ribu rakyat kita yang kehilangan kesempatan untuk bekerja disana. Sekali lagi jangan main-main dengan waktu lah karena bukankah waktu adalah modal terbesar kita, manusia yang terlahir ke alam ini?
Sambil menunggu di depan stasiun, saya ketiban rizki karena saat itu ada promosi "snack" (makanan ringan) bermerek "Lays". Rupanya Lays adalah pabrik chiki baru yang sedang mempromosikan produknya, snack rasa pizza pepperoni, Italia. Saya, alhamdulillah, dapat dua bungkus. Rasanya lumayan enak seperti rasa pizza pada umumnya hanya menurut saya saja agak asin. Menurut seorang teman, biasanya pabrik-pabrik makanan baru mempromosikan produk makanan/snack di Leiden Centraal dengan membagi-bagikannya secara gratis. Bahkan teman saya bisa dapat lebih dari 5 bungkus jika melalui pintu keluar-masuk yang berbeda. promotion girlnya pun cuek aja, ga akan mengingat wajah kita karena yang penting bagi dia kan snack dalam satu mobil box itu habis. Kalo tiap hari ada budget untuk beli snackbisa di pangkas beberapa euro nih...handal!
Tak lama kemudian, mobile saya berdering. kang Hilman mengontek saya katanya mereka dalam perjalanan dari "Selera Anda", restoran Indonesia yang harganya sesuai dengan kantong mahasiswa Indonesia, menuju Centraal. Waktu itu yang ikut Saya, Kang Hilman, Kun, Syahril (ketua PPI Leiden yang baru), Riri, Ima, Prima, dan mba Nining. Tepat pukul 15.15, kereta meuju Den Haag Centraal melaju meninggalkan Leiden. Kira-kira 20 menit kemudian, kami sampai di Leiden Centraal dengan dingin yang cukup menyengat tubuh. Ini sebetulnya agak aneh karena seminggu sebelumnya cuaca di musim semi ini sudah sangat bagus bahkan bisa sampai 15 derajat. Tapi beberapa hari terakhir cuaca dingin lagi walau tidak sedingin waktu winter.
Kami keluar dari pintu samping sebelah kanan Den Haag Centraal karena tempat di selenggarakannya Pasar Malam Indonesia letaknya tidak jauh dari pintu stasiun itu. Beberapa ratus meter di depan pintu masuk stasiun, nampak tenda putih besar yang menjadi tempat perhelatan acara itu berdiri kokoh, menggoda orang-orang yang melewati pagar lapangan untuk masuk ke dalam arena. Wajah-wajah Indonesia, baik yang asli Indonesia maupun yang telah menikah dengan orang Belanda nampak hilir mudik di depan pagar lapangan. Sepertinya dari wajah-wajah mereka tampak puas dan senang. Saya dan teman-teman ikut dalam antrian di pintu masuk sebelum seorang yang berbadan tegap meminta kami untuk langsung masuk dan meminta hanya salah satu dari kami yang mengantri karena sore itu rintik-rintik hujan kembali turun.
Ternyata, harga tiket tidak sama. Untuk senioren (orang tua) harga tiketnya 5 euro, untuk Studenten (pelajar/mahasiswa) 4 euro, dan untuk kinderen seharga 3 euro. Tentu saja saya masuk dengan tiket studenten. Sayangnya, di pintu pengecekan ternyata untuk mahasiswa Indonesia tidak ada pengecekan tiket. Waktu itu kalau tidak salah hanya di tanya oleh petugas di pintu masuk: "mahasiswa indonesia ya?" tanpa memerikasa ID bisa langsung masuk. wah tahu gini saya tidak beli tiket karena kan bisa untuk jajan di dalam arena.
Tenda Pasar Malam Indonesia ini terbagi dalam empat tenda besar. Bagian pertama di depan, diisi oleh stand-stand dari beberapa provinsi di Indonesia seperti Sumatra Selatan, jawa Timur, Jawa Barat, Minahasa, dan provinsi-provinsi di Kalimantan. Saya sempat memutar dua kali ruangan ini karena penasaran ingin bertemu dengan stand Banten. Tapi setelah berputar-putar dan sempat bertanya kepada seorang panitia akhirnya saya benar-benar yakin jika stand provinsi Banten tidak ikut. Ada beberapa kemungkinan menurut saya. Pertama bisa jadi karena ini merupakan Pasar Malam Indonesia yang pertama di gelar (karena ada pasar malam Tong-tong yang jauh lebih besar dan jauh lebih dahulu di selenggarakan) sehingga tidak semua provinsi bisa ikut serta. Kedua, bisa juga informasi sampai tapi tidak di tindaklanjuti oleh dinas pariwisata setempat.
Sayang, karena Banten punya sumberdaya pariwisata yang luar biasa yang bisa di jual ke masyarakat Belanda. Potensi pantai di selatan dan barat misalnya, saya pikir tidak kalah dengan pantai Sanur di Bali atau Lombok. Belum lagi dengan potensi lain semisal aspek kesejarahan Banten yang punya hubungan lama dengan Belanda dan warganya. Ketika transit di bandara Kuala Lumpur beberapa waktu yang lalu, saya sempat berbicara kepada seorang tua Belanda dan saya kaget karena menurutnya banyak sekali warga belanda yang lebih memilih Malaysia sebagai tempat berlibur dari pada Indonesia terutama karena aspek infrastruktur dari pada aspek keamanan. Padahalkan alam Malaysia ya relative sama dengan kita dan harusnya secara emosional warga Belanda lebih memilih Indonesia karena faktor hubungan kesejarahan yang cukup panjang.
Bagian kedua dari tenda besar ini adalah ruang live music dan tari-tarian. didalam ruangan ini terdapat panggung besar dengan saund system yang biasa digunakan untuk konser-konser musik. Di ruangan ini, artis Indonesia seperti Andre Hehanusa dan lainnya menghibur pengunjung dengan lagu-lagu nostalgia tahun 60, 70, dan 80an. Lagu-lagu daerah juga di tampilkan seperti beberapa lagu dari Ambon dan Papua yang saya tidak hapal judulnya. di ruangan ini pengunjung bisa bernyanyi, berjoged, dan berdansa bersama. Karena saya cuma bisa joged dangdut dan itupun belum terlalu lentur, maka saya tidak ikutan "turun".
Bagian ke tiga yang merupakan ruangan yang paling besar adalah ruangan tempat wisata kuliner. Di ruangan ini, secara melingkar, berjenis-jenis makanan dan minuman asal Indonesia di jual dengan harga paling murah 2 eoro dan paling mahal 9 euro. Makanan yang saya temukan antara lain: nasi uduk dengan ayam goreng, nasi rames, nasi padang lengkap dengan kepala ikan, kikil dan sambel padangnya, soto madura, soto jakarta, sate kambing, sate ayam, nasi Minahasa dll. Ada juga panganan sepert pisang goreng, bakwan, misro, combro, siomay, bakso, mpe-mpe, es kelapa muda, cincau, cendol, dan lainnya. Any way, sayang karena saya tidak menemukan cecuer, rabeg, sate bebek, sate bandeng, apalagi gerem asem di arena festival ini. Akhirnya saya hanya minum es Shanghai, tidak tahu dari mana asal minuman ini yang jelas saya haus...he he
Ruangan ke empat adalah dinning room. Disini tersedia beberapa meja-meja tinggi tanpa kursi jadi jika kita makan harus berdiri. Di depannya terpampang layar besar yang memutar film Indonesia selama Pasar malam ini berlangsung. Saat saya di sana, film yang di putar adalah film Laskar Pelangi I yang sangat fenomenal itu. Film ini sangat cocok dengan kondisi kami, mahasiswa yang sedang menimba ilmu di Eropa karena di film itu ada beberapa statement dan nilai yang sangat baik untuk di tindaklanjuti seperti semangat mencari ilmu, kebijaksanaan dll belum lagi nama Eropa beberapa kali di sebut oleh tokoh-tokohnya.
Sabtu malam itu memang luar biasa ramainya. Pengunjung tidak hanya datang dari kota-kota di Belanda tapi juga dari Jerman dan Belgia. Di Pasar Malam Indonesia itu kami juga sempat berbincang dengan tiga perempuan pencari rokok Sampurna mild yang berasal dari satu daerah yaitu Batak. Setiap ada yang merokok mild yang mereka temui, mereka akan memintanya termasuk kepada teman saya Kang Hilman dan Kun. Mereka berasal dari tiga kota berbeda di Eropa dan mereka bertiga punya suami yang berasal dari Berlin, Hamburg dan Rotterdam. Jadi, intinya selain mengingatkan warga Belanda dengan serba serbi Indonesia, pasar itu juga sebetulnya mempertemukan anak-anak bangsa yang bercerai berai di negeri orang.
Waktu menunjukan pukul 20.10 ketika kami putuskan untuk keluar dari arena itu. Karena hari masih seperti sore (karena musim semi dan panas membuat siang lebih panjang) kami sempatkan untuk ke restoran China di Den Haag yang menjual juga makanan cita rasa Indonesia dengan harga terjangkau. Sebelum masuk restoran, saya penasaran ingin ke toko China yang katanya lebih besar dan lengkap bahan makanan Indonesianya dari toko China yang ada di Leiden. Sehingga kesempatan itu saya gunakan untuk membeli beberapa bahan makanan.
Di restoran china itu kami habiskan 37 euro dan karena berdelapan maka masing-masing hanya mengeluarkan dana 4, 6 euro saja untuk makan cah kangkung, cah sawi dan tahu, ayam goreng dan nasinya. wah alhamdulillah pulang ke Leiden dengan perut kenyang...
Leiden, 5 April 2010